“Pulang ke kotamu/Ada setangkup haru dalam rindu/Masih seperti dulu/Tiap sudut menyapaku bersahabat/Penuh selaksa makna” siapa yang tak tahu lirik lagu dari band Kla Project satu ini. Lirik lagu berjudul Yogyakarta ini sangat fenomenal dan boleh dibilang hampir semua orang mengetahuinya.

Ketika Anda mendengar nama Yogyakarta, Anda akan berpikir tentang keunikan kota di Jawa di Indonesia ini. Kota ini disebut unik karena kita bisa melihat berbagai tradisi Jawa yang begitu melekat di kota ini dan masyarakatnya, seperti batik (kain dengan corak khusus yang dibuat dengan tangan (dilukis dan dicetak), kerajinan perak, pertunjukan wayang, musik tradisional atau gamelan, bahkan makanan khas Yogyakarta yang disebut Gudeg! yaitu sayuran yang terbuat dari buah nangka muda.

Yogyakarta juga merupakan Ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta di Jawa yang terkenal dengan Istana Sultan Yogyakarta atau Keraton Yogyakarta dimana keluarga Sultan masih tinggal di istana tersebut sampai sekarang . Istana ini juga terbuka untuk umum tetapi tidak semua bangunan, hanya beberapa bagian bangunan yang bisa dilihat oleh masyarakat. Banyak bagian dari kota ini juga dihiasi dengan sentuhan budaya Jawa di mana orang tidak akan pernah melupakannya dan selalu ingat karakteristik yang ada.

Ornamen-ornamen khas Jawa dapat kita temui di lampu-lampu jalananan, di bangunan atau gedung-gedung di sepanjang jalan dan lain-lain yang membuat kota ini menjadi unik dan cantik. Itulah mengapa kota ini disebut Culture City. Yogyakarta juga dikenal sebagai Kota Pelajar karena banyak terdapat Universitas, termasuk universitas terkemuka yaitu Universitas Gadjah Mada.

Hal inilah yang membuat kota ini memiliki jumlah mahasiswa yang besar, yang berasal tidak hanya dari area Jawa tetapi juga dari luar Jawa , bahkan dari luar Indonesia, sehingga kota ini juga disebut sebagai salah satu kota yang heterogen di Indonesia Ada beberapa tempat wisata yang menarik di Yogyakarta dan sekitarnya. Di kota Yogyakarta sendiri, Anda dapat mengunjungi Malioboro dengan aneka ragam barang dagangan yang ditawarkan kepada pengunjung seperti makanan dan souvenir. Selain itu terdapat Keraton dan Puri Taman Sari.

Di sekitar Yogyakarta, Anda akan menemukan tempat wisata Candi Prambanan, candi Mendut dan Candi Boko dengan ciri khas Hindu yang melekat pada bentuk bangunan dan ornamen candi. Tak kalah menarik adalah Anda juga dapat melihat keindahan dan kemegahan candi dengan ciri khas Budha yaitu Candi Borobudur yang terkenal di dunia, yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban di dunia.

Apalagi pada saat-saat tertentu, secara berkala sering diadakan acara keagamaan dan seni budaya. Di Candi Prambanan, Anda dapat menyaksikan sendratari Ramayana yang diselenggarakan beberapa kali dalam seminggu. Di Candi Borobudur Anda juga dapat menyaksikan acara seni budaya atau sendratari dan perayaan hari besar umat Budha yaitu Waisak.

Perjalanan Anda di Yogyakarta terasa mudah dan menyenangkan karena didukung oleh banyak alat transportasi seperti Bandara Internasional disebut Bandara Adi Sucipto, Stasiun Kereta Api Tugu, Terminal Bus Jombor dan Bus Trans Jogja yang nyaman. Taksi juga tersedia dan mudah untuk ditemukan di kota ini. Untuk mendapatkan perjalanan yang lebih santai dan menyenangkan selama berada di Yogyakarta, Anda dapat mencoba transportasi Becak atau Andong untuk berkeliling kota.

Harga yang ditawarkankan pun terjangkau dengan pelayanan yang ramah Penginapan atau Hotel di Yogyakarta juga tersedia untuk para pelancong atau wisatawan yang berkunjung ke kota Gudeg ini. Berbagai jenis penginapan atau hotel banyak ditemukan, mulai dari kelas melati atau Hotel Budget Yogyakarta sampai dengan Hotel Berbintang Yogyakarta yang sesuai dengan budget atau anggaran Anda.

Dari tahun ke tahun Anda dapat menjumpai hotel-hotel baru yang muncul yang menawarkan konsep pelayanannya masing-masing untuk menarik para wisatawan , baik wisatawan domestik maupun luar negeri.

Kota musik yang melegenda

Berbincang Tentang Kisah Klasik Eross Candra dengan Musik, Gitar dan Sheila  on 7 - Whiteboard Journal

Yogyakarta memang tidak pernah ada habisnya melahirkan seniman bertalenta. Seperti dalam bidang musik, kota Gudeg ini juga melahirkan banyak nama musisi berbakat. Sobat GoHitz tentu tahu band Sheila On 7, Jikustik, atau Letto, mereka semua adalah band besar asal Yogya.

Tak hanya itu, Yogya juga menyimpan banyak musisi berkualitas yang sebagian mungkin belum familiar di telinga. Endank Soekamti Trio punk rock ini kini menjelma menjadi band kreatif dengan beragam inovasi. Mereka adalah Endank Soekamti yang namanya sudah akrab ditelinga penikmat musik Indonesia.

Bahkan belum lama ini, Endank Soekamti telah membuat album terbaru berjudul “Salam Indonesia” yang proses pembuatannya berlangsung di perairan Papua secara live recording. Sesuatu yang belum banyak dilakukan band lainnya di Indonesia.

Anak muda Jogja selalu kreatif dalam berbagai hal, salah satunya musik. Banyak banget band asal kota Gudeg yang sukses hingga dikenal di kancah internasional. Tentu juga sangat beragam band yang ada di kota Budaya ini, mungkin juga bisa dibilang komplit, semua genre bisa kamu ditemukan di kota ini.

Namun jika membicarakan soal kesuksesan, tentu akan ada berbagai faktor penilaian, mungkin salah satunya seperti bagaimana mereka bisa bertahan dan terus eksis dari masa ke masa hingga saat ini.

Selain untuk belajar atau kuliah, ada beberapa dari mereka yang datang ke Jogja untuk bekerja. Kendati demikian, tak sedikit pula dari mereka yang harus meninggalkan Yogyakarta ketika urusannya sudah selesai, entah karena sudah lulus kuliah atau pindah kerja. Hal ini pun membuat kebanyakan dari mereka rindu pada Jogja.

Tak ayal, kerap kali media sosial dihiasi unggahan yang mewakili perasaan rindu terhadap Jogja, baik dari pendatang yang sempat tinggal di Jogja maupun penduduk asli Jogja yang merantau atau pindah ke kota provinsi di luar DIY. Untuk mengobati rasa rindumu, atau mungkin justru membuatmu makin rindu Jogja, redaksi sudah menyiapkan lima lagu bertema Jogja yang bisa diputar di aplikasi musik online.

Ada sejumlah rekomendasi 5 lagu yang makin bikin kangen Jogja:

Adhitia Sofyan – Sesuatu di Jogja “Terbawa lagi langkahku ke sana, Mantra apa entah yang istimewa, Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja. Dengar lagu lama ini katanya, Izinkan aku pulang ke kotamu, Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja.” Lagu ini sudah tak asing lagi di telinga para penikmat musik. Dengan alunan gitar yang lembut, “Sesuatu di Jogja” tampaknya sangat mudah menyihir para pendengarnya untuk memutar kembali memori di Jogja hingga kerap menjadi lagu latar belakang sejumlah video tentang Jogja.

Didi Kempot – Bang Jo Malioboro “Malioboro seksenono lelakonku, nganti sprene tresnaku mung nggo sliramu tansah tak siram tetesing eluhku nganti suk kapan sliramu eling aku.” Tak melulu pop, lagu beraliran campursari milik Didi Kempot sang “Lord of Broken Heart” juga bisa bikin kangen Jogja, lo. Sesuai dengan julukan sang penyanyi, lagu “Bang Jo Malioboro” dijamin membuat pendengarnya makin ambyar.

Gemini – Tunggu Aku di Jogja “Yang harus kau tahu kau takkan terganti untukku Tunggu aku di Jogja Satu alasan yang membuatku bertahan Ku tak bisa lagi berpindah ke lain hati.” Lagi-lagi soal susah move on, “Tunggu Aku di Jogja” adalah salah satu lagu yang bikin pendengarnya makin rindu ke Jogja.

Tony Q – Ngayogjakarto “Crito ngalor ngidul weteng luweh ora usah bingung Sego kucing ora popo rego miring monggo kerso Ngayogyakarto… Ngayogyakarto…” Bosan dengan lagu bernada mendayu-dayu, “Ngayogjakarto”, yang beraliran reggae, bisa menjadi pilihan untuk mengobati rindu terhadap Jogja tanpa harus tersedu-sedu.

Keraton Yogyakarta dan Musik Eropa

Sambut Sumpah Pemuda, Keraton Yogyakarta Pentaskan Mandhalasana untuk  Bhinneka | Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat - Kraton Jogja

Suara yang timbul dari sejumlah alat musik tetabuhan, seperti gambang, saron, demung, bonang, kendang, hingga gong dan beberapa lainnya dirangkai menjadi nada dan irama yang khas, yakni gamelan.

Irama khas tradisional Jawa itu sering terdengar di radio pada rumah-rumah warga di perkampungan, di beberapa toko khas oleh-oleh tradisional di kawasan Malioboro Yogyakarta, atau di pementasan-pementasan kesenian tradisional.

Biasanya, para pemain musik gamelan mengenakan pakaian adat atau tradisional Jawa, seperti setelan baju khas Jawa  (surjan), kain batik, dan blangkon (topi) khas Jawa) untuk pemain pria, serta kebaya dan kain batik untuk para penyanyi atau sindennya. Pakaian itu menyerupai pakaian para abdi dalem keraton.

Abdi dalem keraton memiliki beberapa kesatuan dengan tugas yang berbeda untuk masing-masing kesatuan. Selain pemain musik tradisional Jawa, Keraton Yogyakarta pernah memiliki kesatuan abdi dalem yang bertugas memainkan musik-musik Eropa, namanya Musikan.

Nama Musikan berasal dari bahasa Belanda yang berarti musikus. Jejak keberadaannya masih bisa ditemui melalui kampung di sebelah timur Pagelaran Keraton, kampung Musikanan.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari laman resmi Keraton Yogyakarta, kratonjogja.id, meski jejak instrumen musik Eropa telah ditemukan sejak awal berdirinya Keraton Yogyakarta, namun waktu terbentuknya kesatuan abdi dalem Musikan tidak diketahui kapan tepatnya. Catatan mengenainya baru muncul pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Pada 26 Mei 1923, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock (1921-1926) berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Sri Sultan mengadakan pementasan musik Eropa untuk menghormatinya. Berbagai persiapan dilakukan, termasuk membuat seragam baru dan mengutus seorang Belanda dan dua abdi dalem untuk membeli alat-alat musik tambahan ke Batavia (Jakarta).

Pada bulan November di tahun yang sama, Sri Sultan mengundang seorang seniman asal Jerman bernama Walter Spies untuk bekerja sebagai instruktur dan dirigen musik. Selain sebagai musikus, Spies juga dikenal sebagai pelukis ulung.

Kehadiran Spies yang mulai bekerja pada keraton sejak 1 Januari 1924 memberikan pengaruh cukup besar. Selain mengajar musik Eropa, ia sendiri mendalami gamelan Jawa.

“Dalam masa kerjanya yang singkat sebelum pergi ke Bali tahun 1927, ia meninggalkan beberapa manuskrip notasi gamelan untuk dimainkan dengan piano,” demikian tertulis dalam artikel tersebut.

Saat itu, kesatuan musik Eropa keraton memiliki 40 anggota dan orkesnya dinamai Kraton Orcest Djogja. Para Abdi Dalem Musikan diberi nama dengan kata-kata dari bahasa Belanda. Beberapa menggunakan nama-nama hari seperti Zondag (Minggu), Maandag (Senin), dan Dinsdag (Selasa). Beberapa menggunakan nama-nama bulan seperti Januari, Februari, Maart, April, dan Mei.

Beberapa lainnya menggunakan nama-nama opera. Seperti Aida, nama opera karya G. Verdi yang muncul tahun 1871 di Italia. Atau Carmen, judul opera karya Georges Bizet yang muncul pada tahun 1875 di Perancis.

Sebagian lainnya mengambil nama dari komposer opera, seperti Leoni, yang berasal dari nama Franco Leoni, komposer Italia yang hidup antara tahun 1864-1949. Nama-nama yang digunakan oleh para abdi dalem ini selanjutnya turun temurun diberikan pada penerusnya. Keturunan mereka akan menyandang nama itu, yang menggantikan abdi dalem yang sudah berakhir masa tugasnya.

Perkembangan musik keraton saat ini

Musikan Mandalasana, Kembalinya Musik Diatonis Keraton Yogyakarta Yang  Sempat Vakum Yogya | GudegNet

Kraton Orcest Djogja memiliki dua fungsi utama. Fungsi pertama adalah fungsi protokoler. Fungsi kedua adalah sebagai hiburan, baik acara-acara jamuan yang dilaksanakan di dalam atau di luar keraton.

Apabila seorang pejabat tinggi Hindia Belanda datang ke keraton, lagu kebangsaan Belanda Wilhemus dimainkan saat mereka memasuki Plataran Kamandhungan Lor. Di dalam Kedhaton, mereka disuguhi musik yang dimainkan dari Bangsal Mandalasana.

Secara struktur organisasi, Abdi Dalem Musikan ditempatkan di bawah Kawedanan Kriya, yang nantinya menjadi Kawedanan Hageng Punakawan Wahana Sarta Kriya. Musikan tidak ditempatkan di bawah Kawedanan Hageng Punakawan Kridamardawa yang menangani seni budaya keraton.

Sikap Sri Sultan Hamengku Buwono VIII mengenai musik Eropa dalam Keraton Yogyakarta tampak dari penempatan tersebut. Walau menerima dan menggunakan produk budaya kolonial, Sri Sultan menempatkannya di luar khazanah budaya Jawa.

Selain itu, perlu dicatat bahwa personel-personel berkebangsaan Eropa yang dipekerjakan di Kraton Orcest Djogja berkebangsaan Jerman, Austria, dan Spanyol. Tidak ada yang berasal dari Belanda.

Setelah menjadi dirigen kesatuan abdi dalem Musikan Keraton Yogyakarta selama beberapa tahun, Spies berhenti dan pergi ke Bali tahun 1927. Posisinya sebagai dirigen digantikan oleh Abdi Dalem bernama Mas Lurah Regimentsdochter, yang kemudian wafat pada tahun 1931.

Jabatan Mas Lurah Regimentsdochter sebagai dirigen diserahkan pada putranya yang bernama Leoni, yang kemudian diberi gelar Raden Lurah Regimentsdochter II.

Pada masa itu, Kraton Orcest Djogja berkembang dengan baik. Banyak kegiatan dilakukan. Seperti pementasan musik untuk mengiringi perarakan gunungan saat Garebeg Sawal, menyambut kunjungan para Gubernur Jenderal ke keraton, pentas dalam rangka penobatan Sunan Paku Buwono XI di Surakarta, menyambut kunjungan Sunan Paku Buwono XI ke keraton Yogyakarta, dan tak ketinggalan pementasan dalam rangka penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

“Selain pementasan dalam acara-acara penyambutan, Kraton Orcest Djogja melakukan kegiatan rutin di Pagelaran yang disebut Pasowanan. Ada pula pementasan dua kali sebulan di Societeit de Vereeniging, gedung rekreasi bagi orang Belanda yang kini menjadi bagian dari kompleks Taman Budaya Yogyakarta.”

Kegiatan Kraton Orcest Djogja memainkan lagu-lagu Eropa terhenti pada tahun 1942, tepatnya Maret 1942, saat Jepang merebut Jawa dari kerajaan Belanda.

Saat itu Jepang sangat antipati pada segala sesuatu yang berbau Belanda, dan menjadi hal yang tabu untuk dilakukan,

Kraton Orcest Djogja pun mulai memainkan lagu Jepang seperti Gunkan, Akatsuki, dan Kimigayo. Tenaga kulit putih yang sebelumnya ada, tidak dipergunakan lagi. Abdi Dalem Musikan yang dahulu disebut Kanca Musik, diubah menjadi Kanca Waditraya.

“Nama-nama Abdi Dalem yang sebelumnya menggunakan nama Eropa, diubah menjadi nama Jawa. Tiap nama Abdi Dalem diakhiri dengan kata waditra, seperti Mulyawaditra, Somawaditra, Kartawaditra, dan Pranawaditra. Waditra sendiri berarti alat musik.”

Pada masa ini, hampir tidak ada kegiatan bagi Abdi Dalem Kanca Waditraya. Baik itu berupa pementasan di dalam, atau di luar keraton. Abdi Dalem yang ada pun berkurang hingga menjadi 33 orang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan berakhirnya masa pendudukan bala tentara Jepang di Nusantara, kegiatan Abdi Dalem Musikan mulai dibangkitkan kembali. Mereka bermain mengiringi parade militer dan upacara bendera selama ibu kota berada di Yogyakarta.

Kraton Orcest Djogja bahkan sempat melakukan tour ke Jakarta mulai tanggal 23 Desember 1949 hingga 1 Januari 1950. Sepulangnya dari tour, Regimentdochter II, yang juga dikenal sebagai R. Rio Suryowaditra mendapat kenaikan pangkat pada tanggal 11 Januari 1950. Ia mendapat nama baru sebagai RW Pradjawaditra.

Namun, Keraton Yogyakarta sempat mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Kondisi itu berpengaruh pada kesejahteraan Abdi Dalem Musikan. Terlebih saat itu acara-acara protokoler dan acara hiburan yang memerlukan iringan musik Eropa mulai berkurang. Akhirnya kesatuan ini dibubarkan. Alat-alat musik dihadiahkan kepada Abdi Dalem yang berhenti sebagai modal untuk mencari nafkah.