Satuan Intervensi Gendarmerie Nasional, secara umum disingkat GIGN (bahasa Prancis: Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale) adalah satuan elit Paramiliter Gendarmerie Nasional Prancis. Misinya mencakup anti-terror, penyelamatan sandera, pengawasan ancaman nasional, perlindungan pejabat pemerintah, dan penargetan kejahatan terorganisir.

GIGN bentuk oleh kepolisian Prancis yang bersifat paramiliter, unit ini dirancang pada tahun 1973. Memiliki kemampuan operasi pembebasan sandera dan investigasi, salah satu misi sukses yang gemilang adalah operasi pembebasan sandera di pesawat Air France pada tahun 1994.

Pasca-pembantaian Muenchen selama Olimpiade pada 1972, ditambah pemberontakan di Penjara Clairvaux tahun 1971, Perancis tampaknya mulai kewalahan. Negara yang beribukota di Paris ini berusaha menemukan solusi atas berbagai ancaman yang terjadi. Sekaligus tetap berperan melindungi masyarakat dari banyaknya gejolak yang terjadi.

Inilah cilkal bakal kelahiran unit operasi khusus angkatan bersenjata Prancis, yang dinamakan Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale (GIGN).

Mulai aktif pada 1 Maret 1973, GIGN punya semangat sebagai pasukan elite yang bisa melakukan serangan brutal sekaligus sulit diprediksi. Bagian dari National Gendarmerie ini dilatih untuk melakukan misi penyelamatan kontra-teroris dan sandera.

Memiliki motto “Menyelamatkan nyawa tanpa mengindahkan nyawa sendiri,” GIGN dikenal untuk memburu segala ancaman bagi bangsa dan rakyatnya.

Unit intinya berkekuatan 200 orang, mereka tidak menujukkan diri dan bahkan melanggar hukum Prancis jika mempublikasikan foto wajah mereka.

Berbagai prestasi penting berhasil dicatat GIGN. Sejak pembentukannya, tercatat GIGN sudah mengambil lebih dari seribu operasi, membebaskan lebih dari 500 sandera, menangkap lebih dari seribu tersangka, dan membunuh 12 teroris.

Penyelamatan penting yang membuat nama GIGN kian bersinar di antaranya pembebasan 30 anak dari bus sekolah yang ditangkap Front Pembebasan Pantai Somalia di Djibouti tahun 1976. GIGN juga berperan dalam pembebasan diplomat dari kedutaan Perancis di San Salvador pada tahun 1979.

GIGN juga membantu penangkapan teroris Korsika dari Front Pembebasan Nasional Korsica di Fesch Hostel tahun 1980, serta pembebasan sandera di Kaledonia Baru pada Mei 1988. Memasuki tahun 1990-an, GIGN juga ikut membantu perlindungan Olimpiade Musim Dingin 1992 di Albertville.

Pada Desember 1994, GIGN ikut mengawal pembebasan 229 penumpang dan awak dari Air France Flight 8969 di Marseille. Pesawat ini dibajak empat teroris yang ingin menghancurkan Menara Eiffel, Paris.

Kehebatan GIGN membuat pasukan ini dipilih oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk mengajar pasukan khusus negara anggota lainnya, khususnya dalam latihan penyelamatan sandera di atas pesawat.

GIGN, Pasukan Elit Perancis yang Diam-diam Disegadi Dunia - Boombastis

GIGN punya spesialisasi dalam mengatasi insiden di pesawat dan kapal. Pasukan ini sempat menangani penyerbuan penerbangan Air France yang dibajak empat teroris Aljazair. Membuat nama GIGN semakin tenar. Para teroris itu membunuh tiga penumpang sebelum pesawat itu diterbangkan ke Marseilles.

GIGN pun berhasil menyerbu dan membunuh empat pembajak dari kelompok ekstremis Bersenjata Aljazair. Aksi cepat GIGN ini menghalangi tujuan besar para teroris, yang memang berencana meledakkan pesawat di atas Menara Eiffel.

Kejadian naas ini terjadi pada 24 Desember 1994. Pesawat bernomor penerbangan 8969 ini dibajak di ibu kota Aljazair, Algiers. Teroris langsung bertindak sadis dengan membunuh tiga orang penumpang.

Mereka lalu menerbangkan pesawat komersial ini ke salah satu kota di Perancis, yakni Marseille. Perdana Menteri Perancis saat itu, Edouard Balladur, segera mengambil keputusan darurat. Operasi militer yang melibatkan GIGN pun ditugaskan untuk menghentikan keganasan teroris. Misi penyelamatan ini berlangsung selama dua hari. Pasukan Perancis yang di dalamnya terdapat elite GIGN, berhasil menewaskan semua teroris yang terlibat.

Seluruh penumpang pesawat Air France yang tersisa berhasil diselamatkan. Mereka menyebut para teroris ini berencana meledakkan pesawat di Menara Eifel, Paris. Klaim para penumpang memang terbukti. Saat pemerintah Perancis menyisir pesawat, beberapa dinamit yang akan dipakai meledakkan Air France ditemukan di dalamnya.

Pembajakan ini memang terjadi di tengah memanasnya kondisi Aljazair. Di tahun itu, terjadi pemberontakan untuk menggulingkan pemerintah junta militer. Kelompok pemberontak itu mendapat halangan dari Perancis, yang dulu sempat menjajah Aljazair. Untungnya aksi para teroris tidak berlangsung terlalu jauh karena peran GIGN Perancis.

Sejak mulai beroperasi, GIGN Perancis telah membebaskan sedikitnya 600 sandera. Kemampuan anggota GIGN memang terbilang luar biasa. Selain mahir mengoperasikan senjata, pasukan ini mampu melucuti senjata tersangka dengan tangan kosong.

Dalam pemilihan senjata, GIGN yang memang selalu membawa senjata api di setiap misinya ini, punya spesialiasi senjata khusus.  Di antara berbagai macam senjata api yang dibawanya, mereka hampir selalu membawa Manurhin MR73 revolver aksi ganda.

Masuk Islam Sesaat demi Selamatkan Masjidil Haram

Pendemo di luar Masjidil Haram memprotes pengambilalihan masjid dengan membakar patung

Di Arab Saudi, GIGN juga sempat membantu mendapat kendali selama sabotase  Masjidil Haram di Mekkah di tahun yang sama. Saat itu, pemberontak ekstremis mengambil alih Masjidil Haram di Mekkah untuk menggulingkan House Of Saud. GIGN pun bergabung dengan pasukan Saudi.

Tapi, ini terkendala larangan non-muslim untuk memasuki kota suci. Tim yang terdiri dari tiga komando GIGN ini pun masuk Islam sebentar demi membantu merencanakan penguasaan kembali Masjidil Haram.

Kejadian ini terjadi pada 20 November 1979, sekitar 50.000 umat Islam dari seluruh dunia berkumpul untuk salat subuh di halaman besar yang mengelilingi Ka’bah di Mekah.

Di antara mereka berbaur 200 pria yang dipimpin oleh seorang pengkhotbah kharismatik berusia 40 tahun bernama Juhayman al-Utaybi. Ketika imam selesai memimpin salat, Juhayman dan para pengikutnya mendorongnya ke samping dan mengambil mikrofon.

Mereka telah menempatkan peti mati tertutup di tengah halaman, suatu tradisi mencari berkah untuk orang yang baru meninggal.

Tetapi ketika peti mati dibuka, mereka mengeluarkan pistol dan senapan, yang dengan cepat didistribusikan di antara para pria.

Salah satu dari mereka mulai membaca pidato yang sudah dipersiapkan: “Rekan-rekan Muslim, kami mengumumkan hari ini kedatangan Mahdi… yang akan memerintah dengan keadilan dan keadilan di bumi setelah dipenuhi dengan ketidakadilan dan penindasan.”

Bagi para peziarah yang berada halaman, ini adalah pengumuman yang luar biasa. Dalam hadits – tentang apa yang dikatakan atau disetujui Nabi Muhammad – kedatangan Mahdi telah diramalkan.

Dia digambarkan sebagai seorang yang diberkahi dengan kekuatan luar biasa oleh Tuhan, dan sejumlah kalangan Muslim percaya dia akan mengantar era keadilan dan keyakinan sejati.

Namun ini adalah tipu daya kelompok ultra-konservatif Muslim Sunni bernama al-Jamaa al-Salafiya al Muhtasiba (JSM) yang mengutuk apa yang mereka sebut degenerasi nilai sosial dan agama di Arab Saudi.

Polisi Saudi pada awalnya gagal memahami skala masalah dan mengirim beberapa mobil patroli untuk menyelidiki, tetapi ketika mereka pergi ke Masjid al-Haram mereka disambut oleh hujan peluru.

“Mereka langsung ditembak jatuh,” katanya. “Penembak dengan peluru tajam memiliki senjata yang sangat bagus, senapan Belgia yang sangat bagus,” ujar Mark Hambley, seorang pejabat politik di kedutaan besar AS di Jeddah yang mengetahui kejadian itu, seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari BBC.

Menjadi jelas bahwa para pemberontak telah merencanakan serangan mereka secara rinci dan tidak akan mudah untuk diusir.

Sebuah barisan keamanan didirikan di sekitar Masjidil Haram, dan pasukan khusus, pasukan terjun payung dan satuan lapis baja dipanggil.

Masjidil Haram adalah sebuah bangunan luas yang terdiri dari galeri dan koridor, dengan panjang ratusan meter, mengelilingi halaman Ka’bah, dan dibangun di dua lantai.

Selama dua hari berikutnya, Saudi meluncurkan serangan frontal dalam upaya untuk mendapatkan pintu masuk. Namun pemberontak memukul mundur gelombang demi gelombang serangan, meskipun mereka kalah dalam sisi jumlah dan senjata.

Bangunan suci itu berubah menjadi ladang pembantaian dan korban jiwa terus meningkat menjadi ratusan.

Makkah Dikudeta, Dibebaskan oleh Pasukan Khusus Perancis | KASKUS

Presiden Prancis diam-diam mengirim tiga penasihat dari unit kontra-teror yang baru dibentuk, GIGN. Operasi harus tetap rahasia, untuk menghindari kritik terhadap intervensi Barat di tempat kelahiran Islam.

Tim Prancis berkantor pusat di sebuah hotel di kota terdekat Taif, tempat tim itu menyusun rencana untuk mengusir para pemberontak – ruang bawah tanah akan diisi dengan gas, untuk membuat udara tidak dapat dihirup.

“Lubang-lubang digali setiap 50 meter untuk mencapai ruang bawah tanah,” kata Kapten Paul barril, yang bertugas melaksanakan operasi.

“Gas disuntikkan melalui lubang-lubang ini. Gas disebar dengan bantuan ledakan granat ke setiap sudut tempat para pemberontak bersembunyi.”

Bagi saksi anonim, bersembunyi di ruang bawah tanah dengan pemberontak terakhir yang masih bertahan, dunia tampaknya akan segera berakhir.

“Perasaan itu seolah-olah kematian telah datang kepada kami, karena Anda tidak tahu apakah ini suara menggali atau senapan, itu adalah situasi yang menakutkan. ”

GIGN bergabung dengan pasukan Saudi, tetapi karena larangan non-Muslim memasuki kota suci. Tim yang terdiri dari tiga komando GIGN masuk Islam sebentar dan membantu merencanakan penguasaan kembali masjid tersebut.