Jauh sebelum kedatangan para penutur rumpun bahasa Austronesia, Nusantara telah dihuni oleh Ras Australomelanesid, para pendatang dari daratan Asia.

Manusia-manusia ini datang dan cepat menyebar di Nusantara tinggal di dataran-dataran, gua-gua, dan ceruk-ceruk pada bukit padas di tepi pantai dan tepian sungai.

Mereka hidup dari menangkap ikan dan meramu makanan dengan menggunakan alat batu yang di Sumatera dikenal dengan nama Sumateralith dari kebudayaan Hoabinhian di Vietnam Utara.

Selain alat-alat dari batu, mereka juga menggunakan alat-alat dari bahan tulang binatang seperti yang banyak ditemukan di Situs Wajak.

Aktivitas perpindahan dan penyebaran ini di Nusantara berlangsung pada 10.000 hingga 40.000 tahun yang lampau.

Beradasarkan riset Edisi Bonanza88. saat ini, asal-usul populasi penghuni Pulau Madagaskar lebih banyak dikaji dari sudut pandang linguistik serta kajian biologi molekular.

Pada umumnya, kajian mereka menunjukkan bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar memiliki hubungan secara linguistik dan biologis dengan populasi dari Indonesia khususnya Borneo, Sumatera, dan Jawa. Out of Africa adalah teori yang hingga kini paling banyak diterima mengenai diaspora masyarakat penutur bahasa Austronesia. Teori ini, yang juga dikenal sebagai Bellwood-Blust.

Model yang mendasarkan argumennya pada data arkeologi dan linguistik historis, mengatakan bahwa masyarakat penutur bahasa Austronesia bermigrasi sejak 7.000 BP dari pantai timur Tiongkok selatan melalui Taiwan akibat tekanan demografi.

VAMAG: #Madagascar:A Land of Endless Natural Beauty and Rich Cultural  Diversity

Jared Diamond kemudian dengan teorinya Express Train from Taiwan to Polynesia (ETTP) mempertegas bahwa sejak 4.000 BP, persebaran masyarakat penutur bahasa Austronesia dari Taiwan melalui Filipina menuju Asia Tenggara Kepulauan, Melanesia Kepulauan, Micronesia hingga Polynesia, berlangsung sangat cepat sejak 4.000 BP.

Kajian linguistik Robert Blust menunjukkan bahwa asal-usul masyarakat penutur bahasa Austronesia di Madagaskar adalah nenek moyang kelompok bahasa Jawa-Bali-Sasak yang memiliki hubungan erat dengan kelompok bahasa Malayo-Chamic dan Bahasa Barito di Kalimantan Selatan.

Ia menduga proto kelompok bahasa-bahasa tersebut dituturkan di bagian tenggara Kalimantan pada periode 3.000-3.500 BP, yang kemudian mengalami pemisahan menjadi nenek moyang Bahasa Barito, Bahasa Malayo-Chamic dan Bahasa Jawa-Bali-Sasak.

Proses pemisahan selanjutnya terjadi pada 2.500 BP, membentuk proto bahasa Jawa, Bali, Sasak, dan Sumbawa bagian barat hingga bahasa Madagaskar, yang mungkin berasal dari suatu daerah di Borneo yang secara spesifik oleh Dahl disebut bahasa Maanyan, Dusun Witu, Paku, Samihim, dan Lawangan di Borneo bagian tenggara.

Secara arkeologis, hal-hal yang dapat diasosiasikan dengan penyebaran penutur bahasa Austronesia awal antara lain pertanian padi-padian, domestikasi anjing dan babi, dan benda-benda berupa tembikar dengan dasar membulat serta berhias slip merah, cap, gores, dan tera tali dengan tepian yang melipat ke luar, kumparan penggulung benang terbuat dari tanah liat, beliung batu yang diasah dengan potongan lintang persegi empat, artefak dari batu sabak (lancipan) dan nephrite (aksesoris), batu pemukul kulit kayu, serta batu pemberat jala, yang dikenal sebagai “paket” budaya neolitik Austronesia.

Sebagai bukti arkeologis, seharusnya sisa-sisa “paket” budaya neolitik tersebut ditemukan di seluruh kawasan persebaran masyarakat penutur bahasa Austronesia, termasuk di Madagaskar. Namun sayangnya belum banyak data arkeologis yang terungkap yang dapat digunakan untuk menguji hipotesis Blust tersebut, sehingga proses penghunian Pulau Madagaskar oleh masyarakat neolitik penutur bahasa Austronesia masih penuh misteri.

Kemiripan antara orang Indonesia dan Madagaskar memang bukan sekadar isapan jempol.

Denis Pierron dkk. dalam makalah berjudul “Genome-wide Evidence of Austronesian–Bantu Admixture and Cultural Reversion in a Hunter-Gatherer Group of Madagascar” (2014) mengatakan gen orang Madagaskar memuat 60 persen gen orang Bantu, suku yang sebagian besar menghuni benua Afrika seberang barat pulau Madagaskar.

Sedangkan 30 persen lainnya, dalam kata-kata Pierron, “datang dari wilayah Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.”

Hasil tersebut didapatkan setelah menganalisis keterhubungan gen tiga suku yang menghuni Madagaskar, yakni Mikea (21 orang), Vezo (24 orang), dan Temoro (24 orang), dengan data gen orang Asia Tenggara dan Afrika.

Sedangkan Maurizio Serva dkk. dalam “Malagasy Dialects and the Peopling of Madagascar” (2011) menyebutkan bahasa Malagasi yang digunakan penduduk Madagaskar dekat dengan bahasa yang digunakan orang-orang Ma’anyan di Kalimantan bagian selatan dengan tingkat kesamaan kosakata dasar sekitar 45 persen. Makalah tersebut menerka pengguna bahasa Ma’anyan tiba di Madagaskar sejak 650 M.

Dua riset tersebut memang menyebutkan moyang, baik secara genetik maupun lingustik, orang Madagaskar berasal dari wilayah Indonesia atau Asia Tenggara. Namun, Pierron dkk. tidak menyebut wilayah mana hulu moyang Madagaskar tepat berada. Selain itu, gen populasi Ma’anyan yang diduga kuat pewaris kosakata dalam bahasa Malagasi tidak ikut dibandingkan. Alhasil, asal-usul moyang Madagaskar pun menyisakan misteri.

Pada 2016, Pai dkk. menjawab misteri tersebut melalui makalah berjudul “Malagasy Genetic Ancestry Comes from an Historical Malay Trading Post in Southeast Borneo”. Dia menemukan gen orang Madagaskar punya komposisi 68 persen gen Afrika dan 32 persen gen Asia.

Tidak mengejutkan, riset yang dilakukan Pai di Universite’ de Toulouse, Perancis itu menemukan gen Afrika dalam orang Madagaskar berasal dari suku Bantu.

Sementara itu, gen Asia yang mengisi gen orang Madagaskar berasal dari populasi suku yang punya gen campuran di Kalimantan, seperti Banjar, Ngaju, Dayak Kalimantan Selatan, Lebbo, Murut, Dusun, dan Bidayuh.

Secara lebih rinci, Pai mengemukakan sebanyak 37 persen gen orang Madagaskar memuat gen orang Banjar. Sedangkan 63 persen lainnya adalah gen suku Bantu. Pai, dkk. menerka percampuran ini sudah berusia lebih dari 7 abad, sejak 1275.

“Kita melihat ternyata bukan Ma’anyan. Malah orang Banjar. Cuma saat migrasi tersebut, Kesultanan Banjar belum ada, tetapi Sriwijaya,” ujar Pai

Sriwijaya merupakan kerajaan bercorak maritim yang berpusat di wilayah Sumatera. Menurut Pai, orang Sriwijaya sejatinya orang Melayu. Berdasarkan Hikayat Banjar, Sriwijaya pernah mendirikan pos dagang di Kalimantan bagian selatan. Di sana, mereka pun akhirnya beranak-pinak dengan masyarakat lokal, termasuk Ma’anyan.

Itu bisa dilihat dari komposisi gen orang Banjar. Pai, dkk. menyebutkan gen orang Banjar terdiri atas 77 persen gen Melayu dan 23 persen Ma’anyan. Percampuran ini terjadi terakhir pada 1525 dan itu bersesuaian dengan masa kemunduran Kerajaan Sriwijaya.

“Kalau kita lihat waktu historisnya, dokumennya minim sekali. Tetapi, yang memiliki kemampuan navigasi dan time frame yang memungkinkan adalah Sriwijaya,” ujar Pai

Meski telah mampu melacak orang Banjar sebagai pewaris gen Asia orang Madagaskar, Pai mengakui bahwa riset genetiknya belum mampu mengungkap rute mana yang digunakan para moyang tersebut untuk bisa sampai ke Madagaskar.

Soal rute perjalanan tersebut, melalui analisis linguistik, makalah Maurizio Serva dkk. menyebutkan pantai tenggara Madagaskar adalah lokasi moyang mendara pertama. Menurutnya, lokasi tersebut juga menunjukkan para moyang itu menempuh perjalanan laut dari Kalimantan, melalui selat Sunda, dan kemudian, sepanjang arus samudera besar, menuju ke Madagaskar.

Hasil Riset Peneliti Australia

Menengok Pohon Purba di Lorong Baobab yang Jadi Ikon Madagaskar -  kumparan.com

Orang Indonesia adalah nenek moyang penduduk Madagaskar, demikian penelitian yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, 21 Maret 2012. Ahli biologi molekuler Universitas Massey Selandia Baru, Murray Cox, memimpin penelitian untuk menganalisis DNA mitokondria yang diturunkan lewat ibu dari 2.745 orang Indonesia yang berasal dari 12 kepulauan dengan 266 orang dari tiga etnis Madagaskar (Malagasi): Mikea, Vezo, dan Andriana Merina.

Menurut Cox, seperti dikutip The Australian, hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa sekira 30 orang perempuan Indonesia menjadi pendiri dari koloni Madagaskar 1.200 tahun silam. Mereka disertai beberapa lelaki yang jumlahnya lebih sedikit.

Penelitian DNA ini memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya. Secara arkeologis dibuktikan dengan temuan perahu bercadik ganda, peralatan besi, alat musik xylophone atau gambang, dan makanan tropis seperti tanaman ubi jalar, pisang, dan talas.

Dari sisi linguistik, kebanyakan leksikon penduduk Madagaskar berasal dari bahasa Ma’anyan yang digunakan di daerah lembah Sungai Barito di tenggara Kalimantan, dengan beberapa tambahan dari bahasa Jawa, Melayu, atau Sanskerta.

Menurut Robert Dick-Read dalam Penjelajah Bahari, kemiripan ini kali pertama dikemukakan misionaris-cum-linguis Norwegia Otto Dahl pada 1929 setelah meneliti kamus Ma’anyan karya C. Den Homer (1889) dan karya Sidney H. Ray (1913). “Tapi, kita harus melihat lebih teliti lagi sebab asal-usul Ma’anyan masih diperdebatkan,” tulis Dick-Read.

Anehnya, Dahl sendiri menyebut kemiripan itu tak memecahkan semua misteri bahasa Malgache (Malagasi). Sebab, terdapat beberapa unsur dalam Malgache yang mengarah ke Celebes (Sulawesi), terutama suku Bajo dan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung. “Nenek moyang dari suku-suku inilah yang kemungkinan besar adalah para pelaut Indonesia yang telah berhasil menjelajah lautan hingga ke Afrika,” tulis Dick-Read.

Bahkan, tak hanya ketiga suku tersebut. Menurut S. Tasrif dalam Pasang Surut Kerajaan Merina, “mereka kemungkinan campuran dari ras Sumatra, Jawa, Madura, Sulawesi, atau orang-orang Indonesia Timur.

Di sana, mereka berbaur membangun kebudayaan Malagasi. Para pendatang itu kemudian dominan di Madagaskar, karena penduduk aslinya sangat sedikit. Di kemudian hari, datang pendatang baru dari Arab, Pakistan, India, dan orang-orang Prancis yang membawa buruh-buruh Afrika hitam. Jadilah Madagaskar sebuah negeri multiras,” demikian dikutip Tempo, 21 September 1991.

Senada dengan pendapat Tasrif, ahli sejarah Afrika, Raymond Kent, dalam Early Kingdoms in Madagascar 1500-1700, menyimpulkan, “… pasti telah terjadi pergerakan manusia dalam jumlah besar yang datang secara sukarela dan bertahap dari Indonesia pada abad-abad permulaan milenium pertama. Sebuah pergerakan yang dalam istilah Malagasi kuno disebut lakato (pelaut sejati) karena mereka tidak berasal dari satu etnis tertentu.”

Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa, intelektual pertama yang membahas hubungan Nusantara dan Madagaskar adalah Moh. Nazif yang menulis disertasi De Val van het Rijk Merina pada 1928 di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia. Adanya hubungan Indonesia dengan Madagaskar kemudian digunakan sebagai “politik kesatuan” oleh beberapa tokoh bangsa sejak 1920-an.

Pada peresmian Lembaga Pertahanan Nasional di Istana Negara, Jakarta, 20 Mei 1965, Sukarno, merujuk karya Nazif, mengemukakan: “…bangsa Indonesia itu adalah sebenarnya qua ras inter related dengan bangsa-bangsa yang mendiami Kepulauan Pasifik, Indocina, sampai Madagaskar.” Dalam beberapa kesempatan Sukarno kerap menyebut andil Indonesia dalam terbentuknya Madagaskar.

Dalam sambutan Kongres Indonesia Muda pertama tahun 1930, dikutip R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia, tokoh pergerakan Kuncoro Purbopranoto mengatakan, “Indonesia merupakan satu negeri, dengan satu bangsa, dari Madagaskar hingga Filipina, dengan satu sejarah, sejarah Sriwijaya dan Majapahit…”

Tan Malaka setali tiga uang. Dalam Madilog, keyakinan Tan akan para pelaut Nusantara yang menjelajah hingga Madagaskar membuatnya memimpikan Republik Indonesia Raya sampai Madagaskar. “Tan Malaka dulu membayangkan wilayah Republik Indonesia Raya merdeka itu akan terbentang dari Pulau Madagaskar melintasi seluruh semenanjung Melayu, kepulauan Filipina, seluruh Hindia Belanda, termasuk Timtim sampai ke ujung Timur Papua,” tulis Sultan Hamengku Buwono X dalam Merajut Kembali Keindonesiaan Kita.

Saking penasaran, Mohammad Yamin sampai pergi ke Madagaskar pada 1957. “Di Pulau Madagaskar bangsa Indonesia berkuasa mendirikan kerajaan Merina, yang diruntuhkan oleh tentara Prancis dalam tahun 1896, dan sampai kepada kerajaan ini tidaklah terkenal Konstitusi yang dituliskan,” tulis Yamin dalam Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia.

Namun, menurut Dick-Read, Merina yang merupakan penduduk mayoritas di Madagaskar, berasal dari nenek moyang berdarah campuran yang bermigrasi pada permulaan abad ke-16, yakni kaum Anteimoro yang kemungkinan berasal dari dataran tinggi Ethiopia bagian selatan dan kaum Hova.

“Besar kemungkinan bahwa kaum Hova merepresentasikan satu-satunya unsur Indonesia murni di Madagaskar,” tulis Raymond Kent.

Hubungan Indonesia-Madagaskar lebih terang dilihat dari bahasa. Yamin, tulisan Lombard, senang mencari persamaan antara bahasa-bahasa di Indonesia dan Malagasi. Yamin menyontohkan, “kerajaan Indonesia di Madagaskar yang telah dijadikan museum namanya: Rua. Perkataan Indonesianya: ruang, balairung.”

Contoh lain, “sebutan untuk bilangan dua, tiga, empat, lima. Dalam bahasa Malagasi disebut rua, telu, efat, dan limi. Ini mirip ucapan bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, dan Bali,” tulis Tempo, 21 September 1991. “Lalu kata anak, mati, padi, dan tembok. Dalam bahasa Malagasi disebut anaka, maty, pary, dan tambuk.”

Atau “tenko dan baratang, bahasa Makassar untuk cadik dan tiang/galah cadik; dalam bahasa Malagasi disebut tengo dan baratengo,” tulis Dick-Read.

Marcopolo-lah yang menamai Madagaskar pada akhir abad ke-13. Dia menuliskannya Magaskar. Dia sendiri tak mengunjungi pulau itu. Gambaran pulau itu dia peroleh dari para pedagang Arab. Karena itu, menurut Dick-Read, dia keliru menyebut pulau itu subur, banyak gajah dan singa, dan makanan utama penduduknya daging unta.

Menurut Dick-Read, jika melihat kesejajaran kata Bajun (istilah setempat untuk orang di atas perahu) dengan Bajoo dan Manda (pulau yang dihuni oleh suku Bajun di Afrika Timur) dengan Mandar, “tidakkah cukup beralasan bila kita berpendapat bahwa kata Madagaskar memiliki hubungan dengan suku bangsa pelaut lain di Sulawesi, yang terkait dengan suku Bugis, Bajo, dan Manda –Makassar?”