Pelle di Luna (Moon Skin) a Sphinx cat, attends a cat show in Rome, Saturday, Nov. 16, 2019. Hundreds of cats compete in the feline beauty competition held over the weekend in the Italian capital. (AP Photo/Alessandra Tarantino)

November 2020 lalu, sebagian publik dunia berduka. Gil, kucing yang 14 tahun menjadi penjaga tempat paling bersejarah di Turki yaitu Hagia Sophia. Gil menjadi penghuni tetap di tempat ibadah yang berdiri tahun 537. Gil memang jadi sorotan setelah presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengembalikan fungsi Hagia Sophia menjadi masjid.

Gil merupakan kucing betina berbulu abu-abu berjenis European Shorthair. Sebenarnya Gil tak sendirian menjadi penghuni Hagia Sophia. Ia juga tinggal bersama kucing lain yang juga kakaknya bernama Kizim. Tak banyak literasi yang menjelaskan dari mana kucing Gil berasal dan bagaimana sampai akhirnya ia tinggal di Hagia Sophia selama 14 tahun.

Kucing memang menjadi salah satu hewan yang menemani umat manusia mengalami banyak peristiwa bersejarah. Kucing dalam bahasa latinnya Felis silvestris catus, adalah sejenis karnivora.

Kata “kucing” biasanya merujuk kepada “kucing” yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada “kucing besar” seperti singa, harimau, dan macan. Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM, dari kerangka kucing di Pulau Siprus.

Leluhur kucing, jika diturut, berasal dari lima jenis kucing liar, tapi bukan berarti kucing didomestikasikan sebanyak lima kali. Lima jenis itu berhasil kawin silang pada waktu yang berbeda dan menghasilkan Felis Silvestris Lybica, nenek moyang kucing rumah modern. Suku kucing dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama meliputi kucing-kucing kecil, misalnya kucing liar, kucing piaraan, dan links; kelompok kedua meliputi kucing-kucing besar, misalnya singa, harimau dan macan tutul.

Fakta sejarah juga mengungkapkan bahwa peradaban orang Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung yang menyimpan hasil panen. Lantas bagaimana akhirnya kucing bisa menyebar ke seluruh dunia?

Sebuah penilitan pada 2016 lalu menyebutkan bahwa penyebaran kucing di seluruh dunia besar kemungkinan terjadi karena pengaruh bangsa Viking. Sejarahwan asal Amerika Serikat, Ewen Callaway mengatakan bahwa ada hubungan keberdaan kucing di seluruh dunia dengan perjalanan berdagang bangsa Viking.

Insititute Jacques Monod di Prancis juga sempat mengungkapkan penelitian terkait penyebaran kucing di seluruh dunia. Menurut penilitian tersebut, dari DNA Mitokondria yang berasal dari 209 kucing domestik yang ditemukan di dalam 30 situs arkeologi di Eropa, Afrika dan Timur tengah, ada fakta bahwa keberadaan kucing dalam rentang sejarah manusia melalui jalur pertanian berawal pada abad ke-18.

Dari hasil penelitian itu juga ditemukan fakta sejarah bahwa ada dua gelombang besar penyebaran kucing di seluruh dunia. Gelombang populasi pertama terjadi ketika pertanian muncul pertama kali di daerah timur Mediterania dan Turki, dimana nenek moyang liar kucing domestik hidup.

Lalu Gelombang kedua penyebaran kucing terjadi pada beberapa ribu tahun kemudian. Dari penelitian Insititute Jacques Monod itu, ditemukan  bahwa kucing yang memiliki keturunan mitokondria dari Mesir mulai muncul di Bulgaria, Turki dan sub-Sahara Afrika antara abad ke-4 sebelum masehi.

Pada abad keempat Masehi tim percaya bahwa para pelaut sudah mulai memilihara kucing di atas kapal untuk mengontrol populasi tikus di atas kapal, dan kemudian menyebar ke kota-kota pelabuhan selama misi perdagangan. Bahkan ada seekor kucing yang memiliki DNA sama kucing di era Mesir Kuno. dan kucing tersebut di temukan di salah satu situs bangsa Viking di Jerman Utara.

Kucing peliharaan saat ini telah berkembang dari 3 atau bahkan 4 spesies Felidae liar. Kucing domestik pertama, yang ditemui bukti fisiknya, berada di Mesir Kuno, yang dimumifikasi dan ditemukan oleh arkeolog di Beni Hasan, central Mesir pada tahun 1889.

Penemuan luar biasa ini melibatkan ratusan ribu mumi kucing, mungkin jutaan. Sebagian besar mayat mumi kucing dikubur ditanah dan digunakan oleh orang lokal sebagai pupuk atau diekspor. Diperkirakan, lebih dari 19 ton beberapa dari 180.000 kucing dikirim ke Inggris di mana mereka dijual di lelang pertanian.

Nenek moyang ketiga kucing modern adalah kucing liar Eropa, Felis Silvestris, dengan kekhasannya, bulat, ujung ekornya hitam, kucing ini mirip dengan kucing liar Afrika, namun lebih gempal dan gelap, garisgaris kucingnya yang lebih jelas mungkin merupakan hasil dari habitat alaminya di daerah beriklim sedang.

Bagaimana Felis Silvestris datang masih belum pasti, tapi mereka adalah spesies umum di Eropa utara dan mungkin telah menyusup ke pemukiman pertanian disana dalam cara yang sama seperti kucing liar Afrika di Mesir.

Kemungkinan lain adalah bahwa kucing Mesir dibawa ke Roma kuno oleh para pedagang, atau mungkin mereka adalah penumpang gelap diatas kapal, lalu menyebar ke utara Romawi dan kawin dengan sepupu Eropa mereka.

Diketahui bahwa tentara Romawi membawa kucing dengan mereka keseluruh Eropa Barat untuk melindungi pasokan makanan mereka, dan juga bahwa kawin silang antara libyca dan silvestris dapat sukses secara genetik.

Khusus masyarakat Mesir kuno, kucing memang memiliki tempat tersendiri. Kucing tak sekedar dianggap sebagai hewan namun juga sesuatu yang disucikan. Bahkan orang Mesir Kuno menempatkan keselamatan kucing di atas nyawanya sendiri. Menurut Abc Science, ada beberapa faktor yang membuat masyarakat Mesir kuno menganggap kucing sebagai hewan yang dikeramatkan.

Yang utama tentu saja kedudukan kucing di dalam kepercayaan orang Mesir Kuno. Jenis yang paling umum untuk di sembah ditemukan di Mesir, yang mirip dengan kucing liar Afrika, Felis Libyca, yang asli dari daerah perbatasan Mediterania.

Namun, tidak semua kucing yang dimumifikasi merupakan Felis Libyca. Arkeolog juga menemukan Felis Chaus, kucing hutan berekor cincin yang asli dari Timur Tengah.

Bastet, Dewi Perlindungan dan Kucing Mesir Kuno - Catlovers.id

Di zaman Mesir Kuno, terdapat dewi bernama Mafdet yang dirupakan cheetah, keluarga kucing. Mafdet dianggap orang Mesir Kuno sebagai salah satu dewi paling awal di peradaban merkea. Menurut orang Mesir Kuno, Dewi Mafdet adalah dewi keadilan.

Ada juga Bastet, dewi Bastet ini dianggap paling populer di kepercayaan orang Mesir Kuno. Bastet dirupakan setengah kucing dan setengah wanita, dikenal sebagai penjaga rumah, penjaga melawan kejahatan hingga penyakit. Orang-orang memujanya secara luas, karena Bastet dikaitkan dengan kewanitaan dan kesuburan.

Yang tak kalah menarik, kucing dijadikan cara bangsa Persia untuk menaklukan Mesir Kuno. Dikisahkan Cambyses II, raja dari Persia berusaha untuk menundukkan Mesir. Saat itu, Cambyses II memiliki siasat dengan meminta anak buahnya mengumpulkan kucing sebanyak mungkin dan melukis gambar hewan itu di perisai pertempuran.

Saat pasukan Cambyses II akan memasuki Mesir, mereka menggendung kucing. Melihat kondisi seperti itu, bangsa Mesir Kuno memilih untuk tidak bertempur melawan Persia dan membiarkan tanah lahir mereka menjadi jajahan bangsa Persia.

Jika bangsa Mesir menganggap kucing sebagai hewan yang sakral, hal itu tak terjadi di Eropa periode abad ke-13 sampai 14. Saat itu, Paus Gregorius IX pernah memberikan pernyataan yang bisa disebut tak masuk akal, yakni menganggap kucing adalah jelmaan setan terutama kucing hitam dan menganggap akan membawa nasib buruk bila tidak dimusnahkan.

Masyarakat Eropa saat itu percaya pada ucapan Paus Gregorius IX langsung menangkap dan membunuh kucing-kucing yang sampai sekarang tidak pernah diketahui berapa jumlah pastinya, namun pastinya luar biasa banyak. Mereka tidak menyadari telah mengundang sebuah pandemic mengerikan yang akan merenggut nyawa jutaan orang.

Kucing juga pernah memiliki peranan penting di sejarah Perang Bismarck. Saat Perang Bismarck, kucing bernama Sam diketahui selamat dalam tiga tragedi kapal karam. Pertama adalah saat Perang Bismarck, di mana armada laut Jerman ditenggelamkan oleh Inggris pada 1941. Si kucing selamat setelah ditemukan mengambang di atas papan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris, dan kemudian diberi nama Oscar.

Malang tidak dapat ditebak, selama di pelihara oleh AL Inggris jelang Perang Dunia II, si kucing mengalami dua kali kapal karam, dan ajaibnya dia selalu selamat.

Banyak marinir Inggris meyakini bahwa kucing Sam benar-benar memiliki sembilan nyawa seperti yang diceritakan dalam banyak cerita rakyat. Sam kemudian diadopsi oleh salah seorang veteran marinir Inggris, dan dibawa pulang ke kota kelahirannya di Plymouth. Tidak diketahui hingga usia berapa kucing tersebut hidup.

7 Negara yang Memuja Kucing dan Menganggapnya sebagai Dewa dan Dewi  Pelindung - Tribun Medan

Pembantaian kucing berlangsung cukup lama. Setelah peristiwa yang mengerikan kepada kucing itu, muncul wabah penyakit di masyarakat Eropa. bermunculan penyakit aneh di mana orang yang terkena penyakit tersebut kulitnya berubah menjadi hitam. Semakin banyak orang yang terkena penyakit tersebut membuat masyarakat semakin ketakutan dan menyebutnya sebagai “Great Plague” pada masa itu.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis yang menurut penelitian berasal dari kutu dari hewan pengerat seperti tikus. Munculnya wabah ini kemudian dikenal dengan nama “Black Death”.

Kemunculan wabah ini tentu saja diakibatkan terbunuhnya banyak kucing akibat seruan dari Paus Gregorius IX. Pembantaian terhadap kucing mungkin adalah salah satu kesalahan terbesar yang pernah dilakukan orang-orang Eropa pada saat itu. Mereka membunuh predator alami tikus sehingga perkembangan mereka tak terkendali sehingga menimbulkan virus dan penyakit mematikan.

Seiring perjalannya waktu, kucing tak hanya menjadi saksi sejarah manusia di muka bumi. Kucing juga tercatat pernah membantu nyawa manusia di sejumlah kasus. Seekor kucing di Rusia bernama Marsha misalnya pada 2015 jadi sorotan banyak pihak. Si kucing berambut merah itu pernah menyelamatkan anak bayi yang ditinggal orang tunya di kompleks apartemen di Obninsk, Rusia.

Bayi malang tersebut diperkirakan berusia 12 minggu dan segera dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya berada dalam kondisi baik. Ahli medis menyatakan bahwa kucing tersebut telah membantu bayi tersebut untuk bertahan dari hawa dingin dan tanpa kucing tersebut kemungkinan bayi tersebut akan menderita hipotermia.

Masih di tahun yang sama, seekor kucing membantu tugas kepolisian mencegah terjadi bunuh diri. Kasus ini terjadi di San Fransisco, Amerika Serikat. Seekor kucing berhasil menggagalkan keinginan bunuh diri dari majikannya. Si majikan yang tak diketahui namanya tersbut kedapatan mencuri dan ia melarikan diri ke lantai tiga untuk menghindari dari penangkapan.

Pihak kepolisian San Fransisco dan negosiator segera datang untuk menyakinkan orang tersebut agar tidak melompat, sementara rekan-rekan kepolisian lainnya sibuk menyiapkan bantalan busa dibawah. Hampir tiga jam kejadian ini berakhir dengan kebuntuan. Akhirnya pihak keluarga membawa kucing peliharaan pria tersebut, dan seketika si pria tak jadi melompat saat melihat kucingnya dibawa oleh petugas kepolisian.

Ada juga cerita mengenai kucing bernama Mayor Tom. Pada bulan September 2015, Mayor Tom bersama majikannya  Grant MacDonald berlayar menggunakan yacht. Mereka kemudian berada di posisi sekitar 40 mil dari lepas pantai Australia Barat dan mulai kemasukan air. MacDonald yang sedang tertidur dan tidak dapat menyadari bahaya yang muncul. Saat itulah, Mayor Tom membangunkannya dengan berulang kali menyerudukkan kepalanya.

Tidak seperti kebanyakan kucing yang melakukan hal tersebut untuk mengingatkan pemiliknya bahwa sudah saatnya baginya untuk mendapatkan sarapan, namun kali ini Mayor Tom melakukannya karena mereka sedang berada dalam keadaan bahaya.

MacDonald terbangun dan menyadari bahwa yacht miliknya telah kemasukan air dan akan tenggelam. Keputusan dibuat untuk segera meninggalkan kapal menggunakan rakit dan hanya memiliki sedikit waktu untuk mengambil barang-barang berharga di kapal.

Terombang-ambing di lautan lepas, pada akhirnya keduanya diselamatkan oleh kapal dagang China beberapa jam kemudian. Setelah dirawat di rumah sakit, Macdonald dan Mayor Tom akhirnya dapat bertemu kembali dan kini tetap hidup bersama di Australia.

Penjelasan 16 Sifat Aneh Kucing Secara Ilmiah

Cerita mengenai peran kucing ini membuktikan bahwa hewan satu ini memang memiliki kemampuan yang tak sekedar menjadi teman manusia. Kucing memiliki perilaku dan insting yang sangat jauh berbeda dengan hewan lainnya. Perilaku tidak dapat diterima atau aneh biasanya merupakan cara kucing untuk mengungkapkan ketidaksenangannya.

Kucing adalah hewan yang sangat fleksibel dan gampang beradaptasi. Tetapi seiring mereka mencoba untuk hidup dalam harmoni dengan manusia, berbagi wilayah dengan kucing lain mungkin mengembangkan masalah. Anda dapat mencoba dan melihat melalui mata kucing pada apa yang sedang mereka coba untuk ungkapkan kepada Anda. Mungkin adanya pendatang baru dalam domain atau wilayahnya, atau suatu peristiwa yang telah terjadi yang membuat kucing merasa terancam atau tertantang diposisinya.

Tidak seperti manusia, telinga memainkan peranan besar dalam komunikasi kucing. Mereka memiliki antara 20 dan 30 otot yang mengontrol gerakan mereka. Mereka bahkan bisa berputar 180 derajat dan bergerak secara independen satu sama lain. Ada lima sinyal telinga dasar yaitu saat santai, waspada, gelisah, defensif dan agresif.

Saat kondisi santai, kucing biasanya akan duduk dengan telinga menghadap ke depan dan agak miring ke belakang, seperti mendengarkan suara yang menarik. Ketika sebuah suara yang menarik terdeteksi, telinga akan berubah ke mode siaga.

Namun jika dalam kondisi waspada, Daun telinga akan menjadi tegak seolah otot-otot di dahi menarik mereka masuk. Jika telinga mulai berkedut atau berputar, kucing mungkin merasa sedikit cemas atau ragu dengan suara atau situasi. Pun jika dalam keadaan waspada. Jika kucing merasa dalam keadaan konflik, frustrasi atau ketakutan atau kekhawatiran, kucing akan sering menampilkan berkedut seperti gugup pada telinganya.

Selain itu kucing juga bisa merasakan jika terjadi bencana alam seperti gempa bumi. Ada tiga alasan mengapa kucing bisa merasakan gempa bumi. Salah satunya adalah bahwa kucing mungkin sensitif terhadap getaran menit yang terjadi sebelum gempa bumi. Kedua, bahwa mereka mungkin responsif terhadap statis yang terbentuk sesaat sebelum gempa bumi. Ketiga, kucing bisa sensitif terhadap perubahan mendadak di medan magnet bumi yang kemudian menyebabkan terjadinya gempa bumi. Namun, dapat dipastikan bahwa kucing menjadi sangat gelisah sebelum gempa bumi besar melanda.