Persemakmuran Britania Raya pernah dipimpin oleh seorang ratu yang punya tingkat libido tinggi. Sosok tersebut ialah Ratu Victoria, penguasa tanah Inggris yang menjabat sejak 20 Juni 1837 sampai akhir hayatnya tahun 1901.

Sebelum fokus membahas sisi Ratu Victoria yang doyan seks, mari menengok kisahnya secara keseluruhan. Ratu Victoria lahir pada 24 Mei 1819 di Istana Kensington, London. Ia terlahir sebagai satu-satunya cucu yang diakui sah oleh Raja Britania Raya kala itu, George III.

Ayah Ratu Victoria, Pangeran Edward, Adipati Kent dan Strathearn, merupakan anak keempat George III. Sementara sang ibu, Putri Victoria dari Saxe-Coburg-Saalfeld, berstatus bangsawan Jerman, sekaligus janda Pangeran Leiningen.

Sewaktu masih bayi, Ratu Victoria dibaptis oleh Uskup Agung Canterbury, Charles Manners-Sutton dengan nama Alexandrina. Nama ini sengaja dipilih untuk menghargai jasa orang tua baptisnya, Kaisar Alexander I dari Rusia.

Perihal nama belakang, Ratu Victoria meneruskan warisan ibunya. Jadilah nama lengkap Ratu Victoria yaitu Alexandrina Victoria.

Tumbuh besar di lingkungan kerajaan, membuat kehidupan masa kecil Ratu Victoria kurang menyenangkan. Pergaulan Ratu Victoria kecil benar-benar dibatasi, terutama dipengaruhi keputusan sang ibu yang membesarkan anaknya menggunakan metode sangat protektif.

Ibunya melarang keras Ratu Victoria bermain dengan sembarangan anak sebayanya. Jangankan memiliki teman dari luar istana, bermain bersama anak-anak staf kerajaan juga amat diharamkan.

Segala urusan hidup Ratu Victoria telah diatur sedemikian rupa. Soal pendidikan, sang ibu memanggil guru khusus yang siap mengajari Ratu Victoria di dalam istana.

Campur tangan sang ibu turut menjalar ke urusan yang paling sepele, seperti naik turun tangga istana. Setiap kali Ratu Victoria mau menaiki atau menuruni anak tangga, dia dipegangi dan dikawal oleh beberapa penjaga.

Perihal ruangan tidur juga tak lepas dari pengaruh peraturan ketat. Ratu Victoria harus selalu tidur satu kasur bersama ibunya.

Pokoknya, peraturan buatan ibunya yang harus ditaati Ratu Victoria sungguhlah ketat. Sampai-sampai muncul istilah Sistem Kensington, julukan yang menggambarkan betapa protektifnya sang ibu.

Ratu Victoria kecil memiliki pengasuh khusus tersendiri bernama Lehzen. Setiap hari, berbagai aktivitas Ratu Victoria ditemani dan diawasi Lehzen yang sejatinya sudah bekerja lama untuk Putri Victoria.

Lehzen sebelumnya merupakan mantan pengasuh dari dua kakak tiri Ratu Victoria, Carl dan Feodora. Ketika Carl dan Feodora sudah menikah, tugas Lehzen dialihkan guna menjaga Ratu Victoria yang masih kecil.

Tak bisa punya teman, Ratu Victoria kecil lebih sering menghibur diri lewat koleksi bonekanya yang jumlahnya lumayan banyak. Terkadang Ratu Victoria diberi kesempatan bermain dengan anjing peliharaan istana yang diberi nama Dash.

Memasuki usia 10 tahun, Ratu Victoria mulai mengetahui kalau dirinya suatu saat bakal meneruskan takhta Kerajaan Britania Raya. Namanya ada di urutan ketiga pewaris takthta setelah dua pamannya, George IV serta William IV.

Takdir hidup Ratu Victoria akhirnya datang saat dirinya menginjak usia 18 tahun. Semua berawal dari momen pagi hari 20 Juni 1837, staf kerajaan tiba-tiba heboh ingin menemui Ratu Victoria yang masih tertidur.

Apa yang Menghubungkan Ratu Victoria dengan Rusia? - Russia Beyond

Bukan tanpa alasan, dua staf kerajaan ingin menyampaikan pesan darurat. William IV yang berstatus pemimpin Kerajaan Britania Raya, ditemukan wafat sekitar pukul dua dini hari.

Staf kerajaan langsung meminta Ratu Victoria bergegas menemui Perdana Menteri Melbourne. Masih mengenakan pakaian tidur, Ratu Victoria langsung beranjak memenuhi panggilan.

Setelah bertemu Perdana Menteri Melbourne, Ratu Victoria diberi tahu bahwa kini saatnya bagi dirinya untuk memimpin Kerajaan Britania Raya. Maka pada hari itu juga Ratu Victoria dinyatakan resmi sebagai sosok pemimpin Kerajaan Britania Raya yang baru.

Menduduki kursi tertinggi dalam Kerajaan Inggris, ternyata tak membuat Ratu Victoria bisa lepas dari kurungan peraturan ketat ibunya. Meski sudah menjadi ratu, ia tetap diwajibkan tidur satu ranjang bersama ibunya.

Perlahan Ratu Victoria sadar kalau dirinya membutuhkan kebebasan yang lebih. Ratu Victoria lantas mulai mencari-cari cara agar ibunya tak lagi tinggal di istana.

Satu-satunya ide yang terbesit di pikiran Ratu Victoria adalah menikah. Apabila telah bersuami, Ratu Victoria yakin akan bisa mendapat kebebasan seperti yang diinginkannya.

Sebenarnya upaya Ratu Victoria mencari jodoh sudah diusahakannya sejak berusia 17 tahun. Upaya pertama, Ratu Victoria dipertemukan dengan dua saudara sepupunya yang bernama Ernest II dan Albert.

Namun usaha tak membuahkah hasil manis. Alasannya sederhana, Ratu Victoria nihil ketertarikan terhadap kedua sepupunya tadi.

Bulan Oktober 1839, Ratu Victoria tanpa sengaja kembali bertemu dengan salah satu saudara sepupunya lagi, Albert. Pikiran Ratu Victoria tiba-tiba berubah dalam momen pertemuan kali ini.

Perasaan suka sekaligus gejolak asmara mulai timbul di hati Ratu Victoria. Ada sesuatu yang spesial dari Albert dan membuat Ratu Victoria jatuh hati.

Mustahil apabila Ratu Victoria menunggu Albert yang menyatakan cinta. Apalagi Ratu Victoria sejak memimpin Kerajaan Britania Raya dilarang menerima lamaran laki-laki manapun, harus dia yang memilih jodohnya sendiri.

Empat hari pasca bertemu lagi, Ratu Victoria memberanikan diri melamar Albert. Jawaban Albert sesuai yang diharapkan Ratu Victoria, ya lamarannya diterima.

Pernikahan antara Ratu Victoria dan Albert lantas dilangsungkan pada 10 Februari 1840. Lokasi pernikahan menggunakan gedung Chapel Istana Santo James, London.

Menikah dengan Albert menjadi pertanda dimulainya petualangan seks Ratu Victoria. Bagaimana kisahnya? Mari kita simak bersama dalam sub bab artikel Edisi Bonanza88 di bawah ini.

Bersama Albert, Sang Suami

Queen Victoria and Prince Albert: a royal romance | Royal Albert Hall —  Royal Albert Hall

Albert benar-benar membuat Ratu Victoria mabuk kepayang. Malam pertama pasca pernikahan, satu-satunya hal yang Ratu Victoria tahu bahwa dirinya merasakan kebahagiaan bak di surga.

Berdasarkan buku harian yang ditulis Ratu Victoria, malam pertama dilaluinya bersama Alberts dengan penuh pelukan hangat dan cumbu mesra. Berkali-kali mereka terlibat pelukan dan ciuman yang mungkin turut disertai ‘permainan ranjang’.

“Saya tidak pernah menghabiskan malam seperti itu! Wahai Albert tersayang, dia duduk di sisi saya, dan cinta serta kasih sayangnya yang begitu besar memberi saya perasaan kebahagiaan surgawi yang tidak pernah saya harapkan akan bisa saya rasakan sebelumnya. Dia memeluk saya. Dalam pelukannya, kami berciuman, lagi dan lagi! Keindahannya, kelembutannya, sungguh bagaimana aku bisa cukup bersyukur memiliki suami seperti itu! Oh! Ini adalah hari terindah dalam hidupku!” tulis Ratu Victoria menggambarkan kisah malam pertamanya, seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber.

Memasuki hari kedua pernikahan, Ratu Victoria lagi-lagi mengekspresikan perasaannya lewat tulisan. Isi tulisannya kembali banyak dihiasi ungkapan bahagia yang terselip narasi adegan ciuman Ratu Victoria dan Albert.

“Sudah hari ke-2 sejak hari pernikahan; cinta dan kelembutannya melampaui segalanya, Dia mencium pipi dengan penuh kelembutan, menekan bibirku ke bibirnya. Ini semua adalah kebahagiaan surgawi,” tulis Ratu Victoria.

Nafsu birahi Ratu Victoria memang meroket sejak menikahi Albert. Libidonya begitu besar, ia penuh semangat dan tak kenal lelah untuk menikmati hubungan seks.

Bahkan tak jarang Albert sampai kewalahan memenuhi hasrat seksual istrinya. Maklum, hubungan badan yang dilakukan Ratu Victoria dan Albert dalam sehari jumlahnya bisa berkali-kali.

Padahal pada zaman itu, budaya masyarakat yang berkembang dominan menganggap bahwa seks hanyalah sebuah tugas bagi seorang istri, bukan untuk dinikmati. Tapi pemaknaan Ratu Victoria jauh berbeda ketimbang budaya yang ada, ia sungguh menikmati seks lebih dari sekedar kewajiban.

Albert yang sering kelelahan meladeni permintaan seks Ratu Victoria, sejatinya tetap merasa nyaman. Semaksimal mungkin Albert berusaha terus-menerus memuaskan Ratu Victoria.

Pernah suatu kali Albert berbagi cerita kepada saudara kandungnya, Ernest, tentang kehidupan seksnya bersama Ratu Victoria. Albert mengungkapkan kekagumannya terhadap bentuk payudara Ratu Victoria yang sangat indah.

“Istriku memiliki gaun dengan kerah sangat rendah, dihiasi seikat mawar di bagian payudaranya yang tampak begitu menonjol,” bunyi testimoni Albert kepada Ernest.

Bukti lain betapa maniaknya Ratu Victoria akan seks ialah jumlah anak yang dihasilkan dari pernikahannya. Ratu Victoria dan Albert sangat produktif, mampu memiliki total sembilan orang anak.

Sayang sekali, umur pernikahan Ratu Victoria dan Albert hanya bertahan sampai penghujung tahun 1861. Perpisahan bukan terjadi akibat perceraian, melainkan karena Albert wafat lebih dulu meninggalkan Ratu Victoria.

Cerita asmara Ratu Victoria dan Albert sering disebut banyak peneliti sebagai salah satu yang terbesar di sejarah modern. Mereka sering menampilkan keserasian dan saling memahami satu sama lain.

Sempat terjadi perselisihan di antara keduanya yang dibumbui masalah perebutan kekuasaan Kerajaan Britania Raya. Namun pada akhirnya, rumah tangga Ratu Victoria dan Albert tetap mampu melewati segala badai cobaan, terus bertahan, sampai maut yang memisahkan.

Hubungan dengan Pembantunya Sendiri

Ratu Victoria Pernah Dekat dengan Pria Muslim - Minews ID

Ratu Victoria sungguh berduka menanggapi wafatnya Albert. Suami yang sangat dicintainya pergi untuk selama-lamanya. Hal tersisa dari Albert yang bisa dirasakan Ratu Victoria hanyalah kenangan indah dan kesedihan mendalam.

Namun kemurungan wajah Ratu Victoria perlahan berubah seiring waktu berjalan. Sejarah yang satu ini masih kerap diperdebatkan, tapi yang pasti John Brown, pria asal Skotlandia, punya makna spesial bagi kehidupan Ratu Victoria pasca Albert tiada.

Ada beberapa pihak yang bilang kalau John Brown pernah terlibat hubungan asmara dengan Ratu Victoria. Tak sedikit pula pihak yang menjabarkan pendapat berlawanan.

John Brown sendiri merupakan seseorang yang bekerja sebagai pelayan. Ia pertama kali bertemu Ratu Victoria pada 1848, saat Albert menyewa istana di Balmoral.

Usia John Brown kala itu masih sangat muda, baru 21 tahun. John Brown bertugas melayani segala keperluan Ratu Victoria dan Albert.

Peran John Brown lama-kelamaan tampak mengalami perubahan, terutama setelah Albert meninggal dunia. Kehadiran John Brown hampir selalu ada dalam proses penyembuhan duka hati Ratu Victoria.

Awalnya, Ratu Victoria cuma bisa tiduran lemas di ranjangnya, tak punya semangat dan daya. Kesehatannya juga mulai terganggu.

Sesekali memang Ratu Victoria menyempatkan diri berkuda bersama anak-anaknya. Tapi kegiatan itu belum jua mampu membangkitkan semangatnya.

Dokter kerajaan lantas meminta Ratu Victoria untuk lebih sering lagi berkuda. Pemikiran dokter meyakini, apabila Ratu Victoria makin banyak melakukan kegiatan di luar, kian cepat pula proses penyembuhan dukanya.

Ratu Victoria menuruti anjuran dokter. Hampir setiap hari Ratu Victoria menjalani aktivitas berkuda yang mana pasti ditemani John Brown.

Pertemuan Ratu Victoria dan John Brown jelas begitu intens. Ratu Victoria tampak menyimpan kekaguman terhadap John Brown, terlihat dari buku harian yang ditulisnya sendiri.

“Dia sangat menyayangi saya – sangat sederhana, sangat cerdas, tidak seperti pelayan biasa, dan sangat ceria dan penuh perhatian,” tulisan Ratu Victoria tentang John Brown.

Ketertarikan Ratu Victoria terhadap John Brown tertuang lagi dalam tulisan lainnya. Ratu Victoria seakan terkesan dengan perlakuan manis Ratu Victoria kepadanya.

Ratu Victoria merasa John Brown benar-benar bisa menghargainya sebagai wanita. John Brown tak cuma melihat sisi Ratu Victoria yang berstatus penguasa Inggris.

“Kuda poni saya pergi dengan indah, seperti kucing dan cara Brown menggendong saya melewati bebatuan mengagumkan,” tulisan Ratu Victoria.

Kebahagiaan Ratu Victoria akan kehadiran John Brown berlangsung sampai tahun 1883. Tepat tanggal 27 bulan Maret, John Brown meninggal dunia akibat sakit keras.

Ratu Victoria yang bangkit dari duka berkat John Brown, harus merasakan kesedihan lagi. Selepas kepergian John Brown, Ratu Victoria berulang kali menuliskan kenangan manis tentang pelayan setianya itu.

“Seringkali John yang terkasih akan berkata, ‘Kamu tidak memiliki hamba yang lebih berbakti daripada Brown’ – dan oh! Betapa saya merasakannya!”

“Seringkali saya mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang mencintainya lebih dari saya atau memiliki teman yang lebih baik dari saya: dan dia menjawab ‘Kamu juga – daripada saya, tidak ada yang lebih mencintaimu,”.