Bangsa Viking terkenal sebagai bangsa yang garang. Mereka dikenal hobi menjarah, selalu siap bertempur, dan menjadi pelaut yang ulung. Lalu apakah citra mereka di atas ranjang sama garangnya dengan citra mereka di medan perang?

Viking adalah sekumpulan kelompok suku-suku yang menempati daerah-daerah Skandinavia. Jejak kebudayaan bangsa Viking bisa dilihat di Denmark, Norwegia, Swedia hingga Finlandia. Mereka hidup dari abad ke-8 hingga 11. Reputasi mereka di medan perang sudah melegenda bahkan hingga kini. Kita bahkan masih bisa melihat jejak kebudayaan perang mereka misalnya dalam karakter buatan Marvel, Thor.

Mereka dikisahkan memiliki perawakan yang garang, orang kulit putih dengan rambut gondrong, janggut yang dikepang, dan badan penuh otot besar. Para perempuannya juga sering digambarkan memiliki karakter yang tangguh dan pemberani. Dalam beberapa aspek kehidupan perempuan Viking memang digambarkan dengan anggun, namun tetap mereka juga bisa berburu dan melakukan banyak kegiatan fisik yang berat.

Yang mungkin tidak diketahui orang banyak adalah kehidupan mereka di atas ranjang. Bisakah Anda membayangkan bagaimana jadinya persenggamaan pria berbadan besar dengan perempuan-perempuan tangguh?

Garang Tapi Pemalu

9 Ritual Menarik dan Mengerikan Bangsa Viking ! Ngeri !! | KASKUS

Seperti halnya di budaya-budaya lainnya. Bangsa Viking sebenarnya merasa sungkan ketika membicarakan seks. Perbincangan topik seks antar mereka biasa disisipi istilah-istilah yang tidak langsung. Mereka tidak berani membahas seks secara gamblang. Ketika memang harus membicarakan seks, mereka akan menggunakan ungkapan-ungkapan yang ambigu.

Mereka tidak terbiasa mengungkapkan aktifitas seksual dengan bahasa yang jelas. Ketika hendak membicarakan senggama misalnya, mereka akan menggunakan beberapa istilah seperti hviluthrong yang artinya “berkumpul di ranjang”. Aktifitas perangsangan akan dibahasakan menggunakan ungkapan leggja hond yang artinya “mendatangi”. Di samping istilah-istilah tadi terdapat bentuk ungkapan lain seperti, “beristirahat”, “berpergian”, dan “menghibur”, yang semuanya berarti senggama.

Satu-satunya ungkapan yang lebih gamblang adalah brolta a maga yang berarti menindih perut. Istilah-istilah tadi lebih banyak menjelaskan aktifitas seks secara fisik. Nada ungkapan yang berbeda dapat kita temukan dalam ungkapan-ungkapan yang lebih konseptual. Musalnya konsep “nafsu” diungkapkan sebagai “cinta” atau “pikiran”. Ungkapan semacam ini malah member kesan yang romantis.

Romantisnya bangsa viking juga banyak terlihat dari kebiasaan mereka di ranjang. Persenggamaan bangsa viking biasanya dimulai hanya dengan sentuhan. Si laki-laki akan meletakkan tangannya di atas tubuh si perempuan dengan halus.

Persenggamaan mereka juga cenderung terburu-buru. Setelah meletakan tangan dan melakukan sentuhan-sentuhan halus laki-laki akan langsung memulai penetrasi. Posisi missionary menjadi andalan mereka. Apabila bosan mereka akan berganti gaya menjadi doggy style.

Namun, kehidupan ranjang yang romantis hanya berlaku bagi pasangan suami istri. Kehidupan seks bebas di bangsa Viking bisa dibilang jauh lebih keras. Umumnya bangsa Viking menganggap seks bebas sebagai hal yang wajar. Seseorang tidak perlu menikah terlebih dahulu untuk bisa bersenggama.

Bahkan, seorang perempuan Viking memiliki hak untuk menentukan percobaan pernikahan. Percobaan ini dapat dianggap seperti halnya pacaran di masa modern. Percobaan pernikahan adalah saat di mana si perempuan bisa menentukan apakah calon suaminya layak. Kelayakan ini tentu saja ditentukan berdasarkan performa si laki-laki di atas ranjang.

Kehidupan bangsa Viking yang terbatas dalam desa-desa kecil membuat tekanan sosial di antara mereka semakin tinggi. Apabila seorang perempuan mendapati calon suaminya memiliki ukuran penis yang kecil atau bahkan impoten, maka seluruh desa pasti mengetahuinya. Si calon suami akan mendapat banyak kerugian, yang pinangannya bisa ditolak karena performa yang tidak memuaskan. Yang kedua tentu saja dia akan menjadi bahan olok-olok seluruh desa.

Meskipun seks bebas dianggap sebagai sebuah kewajaran, namun bukan berarti bangsa Viking tidak mengenal perzinahan. Perzinahan yang diakui oleh bangsa Viking justru memiliki konsekuensi yang sangat berat. Bangsa Viking hanya mengakui perzinahan dalam bentuk perselingkuhan yang dilakukan oleh suami ataupun istri. Perempuan bersuami diharapkan bisa selalu setia.

Pada masa itu tidak ada alat kontrasepsi, sehingga aktifitas seks sangat mungkin berujung pada kehamilan. Untuk mengendalikan populasi, masyarakat Viking saat itu menghindari kehadiran anak-anak haram dari perempuan bersuami. Apabila seorang perempuan bersuami kepergok selingkuh, maka suaminya berhak menghukum sang istri dengan menggunduli rambutnya, menjualnya sebagai budak atau bahkan membunuhnya. Tetapi apabila si perempuan berusaha untuk menghindari terjadi kehamilan dari pasangan gelapnya, maka Ia berhak lepas dari hukuman yang serius.

Sebaliknya, perzinahan laki-laki dianggap lebih wajar dan lebih ditoleransi. Laki-laki Viiking diberikan wewenang untuk memiliki selir dan budak seks. Meskipun begitu, seorang laki-laki tidak boleh meniduri perempuan bersuami. Meniduri istri orang bisa berakibat hukuman yang berat. Apabila seseorang terbukti meniduri istri orang, maka Ia akan dihukum kebiri atau bahkan dihukum mati.

Alternatif dari kebejatan lelaki Viking adalah dengan memiliki selir. Tapi kepemilikan selir ini juga memiliki aturannya sendiri. Seorang selir harus berasal dari keluarga yang lebih rendah kelasnya. Artinya seorang bangsawan yang menikah dengan bangsawan lain hanya bisa memiliki selir dari keluarga jelata. Karena ada perbedaan kelas, maka si laki-laki juga tidak diperbolehkan untuk menikahi selirnya.

Aturan ini juga penting untuk sang Istri, agar tidak cemburu dan merasa terancam bahwa posisinya akan digantikan oleh seorang selir. Pasangan suami istri beserta selir akan hidup dalam satu rumah tangga yang sama. Mereka bisa hidup harmonis dan bahkan, bisa melakukan persenggamaan bersama, mengingat homoseksualitas dan threesome merupakan salah satu budaya yang dianggap wajar oleh bangsa Viking.

Selain kepemilikan selir, kepemilikan budak seks juga ada aturannya sendiri. Biasanya hanya laki-laki paling berkuasa yang memiliki budak seks. Kehidupan budak seks dapat dibilang jauh lebih menderita dibandingkan selir. Seorang budak seks tidak dianggap sebagai manusia. Mereka lebih dianggap sebagai mainan seks atau objek pemuas seks milik laki-laki berkuasa saja.

Anggapan ini yang menyebabkan muncul tradisi menggilir budak seks. Tradisi ini dilakukan ketika seorang pemimpin atau tokoh masyarakat mati. Sebagai penghormatan kepada sang pemimpin, para laki-laki bawahannya akan memerkosa si budak seks secara bergiliran. Setelah mereka semua kebagian, maka si budak seks akan dibunuh dan jasadnya dibakar bersama jasad si pemiliknya. Pembunuhan dan kremasi ini dilakukan dengan keyakinan bahwa si budak seks akan terus memuaskan majikannya di akhirat.

Untuk pemerkosaan sendiri, memiliki aturan yang juga ketat. Pria Viking dilarang untuk memerkosa perempuan. Apabila terbukti sebagai pemerkosa, maka pria tersebut akan diasingkan dan tidak diterima dalam masyarakat. Hukuman ini tentu juga bisa menjaga martabat dan perasaan si korban. Korban perkosaan pun tidak ditempelkan stigma macam-macam. Mereka diperlakukan sebagaimana perempuan lainnya. Sayangnya aturan tadi hanya berlaku bagi perempuan Viking saja.

Pria Viking justru diperbolehkan untuk memerkosa musuh-musuh mereka. Pemerkosaan terhadap musuh ini menjadi sebuah kewajaran. Ketika berada di tanah musuh, mereka akan memerkosa tanpa pandang bulu, perempuan maupun laki-laki semua disikat.

Adu Garang Adalah Seksualitas Bangsa Viking

Portrait of a girl in a Viking outfit, red hair. ⬇ Stock Photo, Image by © Boykovi #152580630

Riset yang dihimpun Edisi Bonanza88, dalam budaya Viking, tidak ada pembedaan dalam seksualitas seperti halnya yang terjadi di masyarakat modern. Bangsa Viking tidak membedakan seseorang hanya karena aktifitas homoseksual, biseksual, maupun heteroseksual. Semua orientasi seksual diperbolehkan dan tidak mendapat hukuman. Kecuali apabila dilakukan dalam kasus perselingkuhan.

Bangsa Viking cenderung lebih membedakan seksualitas seseorang dari posisinya di ranjang. Seorang pria diperbolehkan untuk menjalani hubungan homoseksual. Aktifitas ini baru dipermasalahkan bagi pria yang menjadi posisi bottom, atau pihak yang dipenetrasi. Apabila dalam kamus homoseksual modern peran ini dinamakan bottom, maka bangsa Viking mengenalnya sebagai ergi. Menjadi seorang ergi merupakan sesuatu yang memalukan dan merendahkan. Oleh karena itu, memerkosa seorang laki-laki juga menjadi tradisi untuk menghukum dan merendahkan orang tersebut.

Dalam budaya Viking, setidaknya ada dua cara untuk mengolok-olok seorang laki-laki. Pertama adalah dengan memanggilnya sebagai seorang pengecut. Yang kedua adalah dengan memanggilnya sebagai seorang ergi. Saking rendahnya, olok-olok semacam ini bisa berakibat pada perkelahian yang seringkali berujung pada kematian salah satu pihak.

Hubungan homoseksual para pria Viking hanya dianggap bermasalah ketika terjadi penetrasi ke anal. Apabila seorang pria melakukan penetrasi ke anal temannya, maka tindakan ini dinilai sebagai tindak penghianatan. Orang Viking memang menganggap pertemanan sebagai sesuatu yang berharga. Sesama teman tidak boleh merendahkan teman lainnya dengan menusuknya dari belakang.

Hal yang berbeda jika homoseksual dilakukan oleh pria yang beristri. Seorang suami yang melakukan tindak homoseksual pada pria lain justru tidak terlalu dipermasalahkan. Hal ini karena pria tersebut dianggap telah memenuhi kewajibannya di masyarakat untuk beranak pinak dan menuruskan garis keturunan.

Dinamika homoseksualitas kaum Viking juga tertulis dalam kisah kayangan Nordik. Seringkali kisah-kisah para dewa justru menunjukkan hal yang ironis dari budaya mereka sendiri. Misalnya, dewa-dewa besar Nordik seperti Odin atau Loki, sering dikisahkan melakukan pesta seks. Dalam pesta seks tersebut, mereka kerap menjalani peran sebagai ergi.

Odin sendiri menjalani peran sebagai ergi dalam kisah ketika Ia sedang mendalami ilmu magis khas perempuan. Sedangkan Loki, menjadi ergi dalam kisah persalinan Sleipnir. Loki juga sering menjadi ergi ketika melakukan tipuan-tipuan dan penyamarannya.

Lebih jauh lagi, salah satu dewa paling maskulin, Thor, juga diduga pernah menjadi ergi. Para sejarawan Viking menduga, ini terjadi dalam kisah ketika Tor menyamar sebagai Freya untuk mengambil palunya di Thrymsvida.

Fakta ini tentu saja jauh dari anggapan orang kebanyakan. Masyarakat modern lebih banyak mengenal bangsa Viking dengan citranya yang sangat maskulin. Menurut sejarawan Viking, Gunnora Hallakarva, citra semacam ini sebenarnya baru muncul ketika Kristen mulai mendominasi seluruh Eropa, termasuk negara-negara nordik.

Apabila dilihat dari teks-teks kunonya justu banyak terdapat penggambaran aktifitas homoseksual sebagai hal yang wajar. Gunnora menilai, meskipun bangsa Viking memang terbukti sangat patriarkis dan mengagungkan kehormatan, tetapi homoseksual tidak dianggap sebagai hal yang berada di luar nilai itu. Sikap yang justru berada di luar norma masyarakat Viking adalah sikap pengecut dan sikap menerima kekalahan. Hal ini yang menyebabkan posisi ergi dinilai sebagai sebuah aib.

Ergi merupakan suatu bentuk kepasrahan di mana seseorang hanya menerima kekalahan ketika dipenetrasi oleh orang lain. Ini juga yang menyebabkan seorang ergi akan sangat malu dengan dirinya sendiri. Rasa malu pria ergi tidak datang karena stigma terhadap homoseksual sebagaimana rasa malu homoseksual di masa modern. Rasa malu ini datang karena perasaan kalah dan hilang harga diri.

Sayangnya menurut Gunnoro, tidak banyak lagi yang bisa diketahui terkait aktifitas seksual bangsa Viking secara lebih eksplisit. Gunnoro misalnya tidak menemukan ada catatan kuno Viking yang menjelaskan aktifitas seks oral.  Banyaknya kekosongan literature terkait aktifitas seksual bangsa Viking juga disebabkan oleh sikapnya yang pemalu ketika membicarakan seks.

Tidak hanya aktifitas seks oral, aktifitas lesbian atau homoseksualitas yang dilakukan antar sesame perempuan, juga tidak ditemukan. Meskipun begitu, dalam budaya populer, perempuan Viking sering digambarkan sering bermesraan dengan sesame perempuan.